loader image
31.3 C
Jakarta
Monday, November 28, 2022

Kelapa sawit membantu dunia dalam Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang mengatasi persoalan kemiskinan. Demikian ungkap Dr. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).

Mengacu data SDGs, jumlah penduduk miskin dunia mencapai 733 juta jiwa. Jumlah terbesar ada di Afrika sebanyak 59,1%, diikuti Pakistan 11,9%, India 11,8%, China 5,7%, dan Indonesia 3,6%.

Bagaimana industri minyak sawit membantu mengatasi kemiskinan dunia?

 Tiga Jalur

Tungkot menjelaskan, industri minyak sawit menolong kemiskinan dunia melalui tiga jalur. Pertama, jalur produksi melalui sentra perkebunan kelapa sawit. Kedua, jalur hilirisasi di negara importir minyak sawit. Dan ketiga, jalur konsumsi minyak sawit.

Industri kelapa sawit mengatasi permasalahan kemiskinan dunia.

Pada jalur pertama, perkebunan kelapa sawit mengubah degraded region (daerah terdegradasi) berupa daerah pelosok, miskin, dan terbelakang menjadi sentra pertumbuhan baru. Hadirnya kemitraan inti-plasma dan perkebunan sawit swadaya, mendorong degraded region menjadi kawasan ekonomi baru.

Menurut riset PASPI, perkebunan sawit mampu membangun daerah miskin dan terbelakang menjadi sentra perekonomian baru. Sentra ekonomi baru ini tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua dan Papua Barat.

Tumbuhnya komunitas sawit menyebabkan terjadinya transaksi ekonomi dengan masyarakat perkotaan dan perdesaan. Tungkot merinci, nilai transaksi masyarakat kebun sawit dengan masyarakat perkotaan mencapai Rp202,1 triliun/tahun sedangkan dengan masyarakat desa senilai Rp59,8 triliun/tahun.

Nilai transaksi masyarakat kebun sawit dengan masyarakat nelayan sebesar Rp10 triliun/tahun, masyarakat petani pangan Rp36,8 triliun/tahun, dan masyarakat peternak Rp13,1 triliun/tahun.

Tungkot Sipayung, 3 jalur sawit menolong kemiskinan dunia.

Lebih dalam Tungkot mengupas, pertumbuhan ekonomi (Produk Domestik Bruto, PDB) kabupatan sentra sawit lebih cepat daripada nonsawit. Tahun 1990 PDB kabupaten sentra sawit dan nonsawit di Sumatera Utara di bawah Rp10 triliun. Di 2013 PDB kabupaten sentra sawit menjadi nyaris Rp80 triliun  sedangkan nonsawit Rp30 triliun.

Secara nasional, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten sentra sawit dari Rp50 triliun di tahun 2000 menjadi Rp250 triliun pada 2013. Sementara, PDRB kabupaten nonsawit di bawah Rp50 triliun hanya menjadi sekitar Rp100 triliun. Pertumbuhan ekonomi baru juga dialami oleh produsen perkebunan sawit lainnya, seperti Malaysia, Thailand, dan Papua Nugini.

“Jadi di mana ada perkebunan sawit, di situ kemiskinan turun karena ada tenaga kerja yang masuk ke sana. Tumbuh pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ucap Tungkot.

Industri Hilir

Tidak hanya di negara produsen atau pengekspor sawit, negara importir pun memperoleh manfaat pertumbuhan ekonomi karena hilirisasi sawit. Tungkot menerangkan, penciptaan lapangan kerja di negara tujuan sawit mencapai 2,73 juta orang pada 2020 dari 2,36 juta orang di 2015.

Sumber: PASPI

“Kita (Indonesia) negara eksportir mampu meningkatkan kinerja sawit. Begitu pula di negara importir, kesempatan kerja meningkat. Itu terjadi di India meningkat, China dan Uni Eropa (UE),” ujarnya pada webinar Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) “Peranan Kelapa Sawit Dalam Pengentasan Kemiskinan dan Mewujudkan Gratieks”.

Hilirisasi minyak sawit juga menghasilkan income generating (PDB) sebanyak Rp38 triliun pada 2020 di negara importir. Distribusi penciptaan kesempatan kerja dan nilai PDB itu ada di India 20%, 17% UE, 12% di China dan Afrika, 10% untuk Pakistan dan Bangladesh, serta 4% Amerika Serikat.

“Sebenarnya UE pura-pura saja menolak sawit. Sebab jika mereka tetap begitu, hilang kesempatan kerja di sana dan pendapatan turun,” tegasnya, Rabu (31/3).

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here