Perikanan budidaya mampu menjadi penopang ketahanan pangan - DJPB KKP

Sobat AgriVisi, konsep blue food atau pangan dari perairan, seperti ikan, udang, dan rumput laut, tengah mengemuka di dunia. Indonesia pun berupaya menghadirkan blue food yang aman dan ramah lingkungan.

Adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tengah fokus mengembangkan produk pakan ikan bertujuan mendukung geliat perikanan budidaya di Indonesia menjadi lebih berdaya saing dan ramah lingkungan. Hal tersebut sejalan dengan konsep blue food sebagai solusi krisis pangan di masa depan.

“Indonesia tengah fokus pada pengembangan pakan ikan karena inilah yang menggerus biaya produksi. Ini menjadi tantangan, bagaimana kami mampu menyediakan pakan ikan serta bahan bakunya yang cukup dan berkualitas. Sehingga, cost produksi bisa lebih ditekan tapi tidak mengurangi kualitas produk dan hasil panen,” ungkap Dirjen Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu.

Ada dua strategi yang diusung pemerintah Indonesia melalui KKP untuk pengembangan produk pakan perikanan. Strategi jangka menengah (2021-2024) fokus pada pemenuhan kebutuhan pakan ikan dengan mengoptimalkan kapasitas pabrik, meningkatkan produksi pakan ikan mandiri, dan mengedepankan bahan baku lokal.

Sedangkan, strategi jangka panjang (2025-2045) fokus pada produksi pakan ramah lingkungan yang tidak merusak ekologi dan memastikan penerapan sertifikasi serta registrasi pakan secara total. Dengan demikian, Indonesia diharapkan mampu swasembada produksi pakan ikan ramah lingkungan pada tahun 2045.

“Dengan apa yang kami lakukan, harapannya sektor perikanan budidaya mampu menjadi penopang ketahanan pangan baik untuk dalam negeri maupun global,” tegas Tebe, sapaannya saat menjadi pembicara dalam forum ‘Blue Food for Inclusive Growth – Ocean 20 yang merupakan bagian dari KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Senin (14/11/2022).

Pakan ikan menggerus biaya produksi – DJPB KKP

Terkait dengan program blue food, Tebe mengakui pentingnya isu tersebut dibahas secara global karena berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan di masa depan. Pasalnya, terdapat ancaman perubahan iklim serta meningkatnya populasi manusia mencapai 9,7 miliar orang pada 2045. Sehingga, kebutuhan protein pun diprediksi meningkatkan hingga 70%.

Sobat AgriVisi, blue food berkaitan erat dengan produk perikanan budidaya yang bertujuan mengurangi penangkapan ikan di alam agar populasinya berkelanjutan. “Sehingga, blue food memiliki peran penting dalam mencapai ketahanan pangan, mengakhiri malnutrisi, dan membangun sistem pangan yang sehat,” kata Tebe.

Menurut Tebe, Indonesia dapat berkontribusi besar dalam penyediaan pangan dari perikanan budidaya. Indonesia saat ini tercatat sebagai negara penghasil perikanan budidaya terbesar kedua di dunia dengan volume produksi 14,8 juta ton. Berdasarkan prediksi FAO, perikanan budidaya Indonesia akan tumbuh sebesar 26% pada tahun 2030 lo Sobat AgriVisi!

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Kelautan dan Perikanan, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Joseph Pangalila menyampaikan, peluang investasi budidaya perikanan di Indonesia masih sangat besar, baik untuk kegiatan budidaya laut, payau maupun tawar. Potensi tersebut meliputi ketersediaan lahan dan juga pasar produk perikanan.

Perikanan budidaya di Indonesia, ungkapnya, masih didominiasi sistem tradisional. Sehingga, diharapkan investor bisa bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk mengembangkan blue economy. Dengan konsep ekonomi biru, dia optimis usaha budidaya dapat berjalan berkelanjutan dan menguntungkan semua pihak.

“Jadi, konsep blue economy tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat,” pungkas Joseph.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here