Dunia sedang dihadapkan pada tantangan krisis pangan global akibat pandemi Covid-19 ditambah perang Rusia-Ukraina. Kedua negara yang tengah berkonflik tersebut merupakan eksportir utama gandum dan minyak nabati dunia.

 

Menghadapi krisis pangan global, Herman Khaeron, Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) mengatakan, pemerintah harus bisa cepat mengantisipasi karena harga komoditas pangan cenderung naik dan sulit turun kembali. Pasalnya, Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor gandum yang cukup besar.

 

Untuk itu, Herman menyarankan pemerintah mendorong kembali program diversifikasi pangan dengan mengonsumsi pangan lokal. “Selama ini masyarakat Indonesia justru diversifikasi pangannya ke produk berbahan baku gandum, seperti mi dan roti gandum,” katanya.

 

Menurut Ketua MPPI 2 periode ini, Bangsa Indonesia tidak boleh tergantung pada satu komoditas, yakni beras. Pemerintah harus mendorong diversifikasi pangan dengan meningkatkan kapasitas produksi pangan lokal.

 

“Kita harus kembali ke komoditas asli Indonesia, pangan lokal. Kalau kita mendorong pengembangan pangan lokal, masyarakat akan banyak pilihan produk pangan. Masyarakat kita tidak paksakan untuk mengonsumi pangan lokal, tapi kita berikan pilihan dan alternatif,” tuturnya pada Munas MPPI di Jakarta (12/8).

 

Herman menyesalkan ketika alokasi anggaran untuk perbenihan senilai Rp1,5 triliun tidak ada lagi. Padahal, benih dan bibit berperan penting dalam peningkatan produksi pangan. Karena itu, ia berharap pemerintah kembali mengalokasikan bantuan benih dan bibit kepada petani/peternak.

 

“Padahal ketika suasana bangsa kurang baik dengan adanya Covid-19, justru pelaku perbenihan dan perbibitan tetap jalan. Ini jadi spirit baru bagi dunia pertanian,” tandasnya.

 

Ketua Dewan Pembina MPPI, M. Jafar Hafsah mengatakan, benih dan bibit adalah awal kehidupan. Kehidupan semua bermula dari benih dan bibit. Bahkan, tidak ada pangan tanpa perbenihan dan perbibitan. “Ini menjadi sebuah justifikasi dan alasan mengapa begitu penting benih dan bibit,” ujar Jafar.

 

Bukan hanya itu, Mantan Dirjen Tanaman Pangan ini melanjutkan, benih adalah kunci utama dalam peningkatan produksi pangan. Dengan demikian peran benih sangat penting ketika bangsa dunia dan Indonesia tengah menghadapi krisis pangan global. Adanya krisis pangan kini banyak negara yang menahan pangan untuk keamanan dalam negeri sendiri.

 

“Sejak dulu pemerintah Indonesia mendorong swasembada pangan, kemandirian pangan, ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Apalagi penduduk Indonesia keempat terbesar di dunia dan pemakan beras terbanyak di dunia,” tuturnya.

 

Jafar pun meminta pelaku usaha perbenihan dan perbibitan yang tergabung dalam MPPI untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan varietas unggul. Teknologi bibit dan benih adalah teknologi canggih, bahkan mengalahkan teknologi pesawat terbang.

 

“Teknologi pertanian terkait makhluk hidup. Semuanya itu dimulai dari benih dan bibit. Tanpa benih dan bibit yang baik, tidak mungkin kita bisa menyelesaikan persoalan pangan,” tegasnya. Karena itu, mengapa dibentuk MPPI yang dilahirkan 16 tahun lalu menjadi wadah pelaku usaha perbenihan dan perbibitan nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here