loader image

Lahan pertanian saat ini mengalami tantangan degradasi atau penurunan kualitas dan produktivitas. Menurut Ladiyani Retno Widowati, Kepala Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, kondisi tersebut akibat pemupukan yang berlebihan.

Yani, menyarankan pentingnya pemupukan berimbang yang memiliki banyak manfaat. Yaitu, meningkatkan produktivitas mutu dan hasil, efisiensi pemupukan, kesuburan tanah, dan menghindari pencemaran lingkungan.

“Berimbang itu artinya sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan target. Jadi, kita harus tahu pemberian pupuk itu untuk mencapai semua status, hara esensial seimbang, sesuai kebutuhan tanaman untuk meningkatkan produksi mutu hasil, meningkatkan efisiensinya. Kita juga perhatikan kesuburan tanah, jangan sampai terjadi kerusakan,” jelasnya.

Ladiyani Retno Widowati, berimbang artinya sesuai kebutuhan

Pemupukan berimbang mengambil kaidah hukum Liebig. Menurut Yani, hukum ini menganalogikan produksi tanaman umumnya dipengaruhi oleh faktor yang paling rendah.

“Misal, (hara) K paling rendah sehingga produksi dipengaruhi faktor K. Kalau petani menambahkan Mg, P, K tidak dikoreksi, tetap pertumbuhan tanaman tidak bisa optimum,” katanya dalam webinar Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertema Peningkatan Produksi Pertanian dengan Pemupukan Berimbang.

Kebutuhan Padi

Kesuburan tanah dalam keseimbangan berbeda-beda sehingga kebutuhan pupuk untuk tiap jenis tanah juga berbeda. “Kebutuhan unsur hara berbeda sesuai jenis tanaman dan target produksi. Di tanah tersedia cadangan, itu menjadi acuan berapa besarnya (pemupukan),” urai Yani.

Berdasarkan rekomendasi Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI), padi membutuhkan hara N sebanyak 17,5 kg/ton gabah, P sebesar 35 kg/ton, dan K senilai 17 kg/ton. Maka, untuk memproduksi 6 ton GKG (gabah kering giling) membutuhkan 233 kg urea, 50 kg SP-36, dan 170 kg KCl.

“KCl kita tidak merekomendasikan 170 kg tapi sekitar 100-150 kg karena harapannya sisanya dari tanah, air, sisa Jerami. N sedikit sekali dari udara dan tanah, P juga sedikit sekali,” imbuhnya, Selasa (11/5).

Varietas padi unggul yang menghasilkan 4 ton gabah per ha, membutuhkan unsur hara N sebanyak 90 kg/ha, 13 kg/ha P, 108 kg/ha K, 11 kg/ha Ca, 10 kg/ha Mg, dan 4 kg/ha S. Sedangkan, unsur hara yang terangkut saat panen sebesar 60 kg/ha N, 11 kg/ha P, 11 kg/ha K, 1 kg/ha Ca, 4 kg/ha Mg, dan 3 kg/ha S.

Rekomendasi pemupukan padi sebanyak 17,5 kg N/ton gabah, P 35 kg/ton, dan K 17 kg/ton

 

Kalau nasi mudah benyek, ada peluang kelebihan pupuk N sehingga mudah basi, tidak tahan lama.

Dampak Pemupukan Tidak Tepat

Kalau memupuk kurang, ungkap Yani, tanaman menjadi kerdil, pembungaan dini dan tidak mudah rontok, pengisian bulir rendah. Tanaman akan mudah terserang OPT (organisme pengganggu tumbuhan) dan potensi produksinya rendah.

“Kualitas produk juga rendah, yaitu warnanya buram, produk mudah patah, rusak, dan rasanya berubah,” urainya.

Sementara, kelebihan pemberian pupuk juga bermasalah. Yakni, menyebabkan pemborosan anggaran, pencemaran lingkungan seperti eutrofikasi pada daun dan badan air dan baby blue karena cemaran N pada air yang terminum ibu hamil. Tanaman tidak tumbuh dengan baik, seperti mudah rebah dan mudah terserang OPT.

“Produksi tidak optimal, kualitas produk menurun. Kalau nasi mudah benyek, ada peluang kelebihan pupuk N sehingga mudah basi, tidak tahan lama. Beras pecah tinggi bila kurang K,” tandasnya.

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here