Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akan dilaksanakan pada November 2022 di Bali. Sebab itulah, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama dengan Pemerintah Provinsi Bali menggencarkan pelaksanaan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan vaksinasi rabies.
“Kami berharap kegiatan vaksinasi ini dapat berjalan dengan lancar dan sesuai target,” ucap Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Nuryani Zainuddin pada acara Pelatihan Refresher Petugas Vaksinasi di Bali pada Kamis (20/10).
Sobat AgriVisi, pada kesempatan tersebut Nuryani menyampaikan, dalam rangka pengamanan wilayah Bali dari kasus rabies dan PMK, diperlukan strategi pengendalian dan pelaksanaan vaksinasi anjing serta hewan ternak secara massal untuk mengurangi insidensi kasus pada hewan, terutama menjelang pertemuan tingkat tinggi G20.
“Saat ini Bali juga sedang fokus dalam percepatan dan peningkatan capaian vaksinasi PMK dengan target 80% Hewan Rentan PMK (HRP) tervaksin,” ucap Nuryani.
Menurut Nuryanu, rabies dan PMK menjadi salah satu perhatian penting pemerintah khususnya menjelang perhelatan G20. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat dan optimalisasi kegiatan vaksinasi dengan pembentukan, serta penguatan tim dalam pelaksanaan vaksinasi.
Lebih lanjut Nuryani mengatakan, pihaknya mendapatkan dukungan dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan ini dari Program Kemitraan Indonesia-Australia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP) dan juga dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH).
“Mari kita saling bekerjasama dan saya harapkan semuanya dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini, sehingga memberikan manfaat dalam rangka optimalisasi penanggulangan rabies dan PMK di Bali,” ucap Nuryani.
Sobat AgriVisi, dalam kesempatan terpisah, John Leigh, Team Leader Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP) menyampaikan, Pemerintah Australia melalui AIHSP mendukung Pemerintah Indonesia dalam pengendalian rabies dan PMK di Bali.
“Kami mendukung Pemerintah untuk memvaksinasi lebih dari 70% anjing di provinsi ini terhadap Rabies, persentase tersebut diperlukan untuk mengendalikan penyakit rabies secara efektif,” imbuhnya.

John Leigh berharap, Provinsi Bali dapat menjadi ‘role model’ serta mendukung terciptanya kerja sama dan sinergi lintas sektor dalam penanganan penyakit zoonosis, seperti rabies dan PMK ke depan.
Sementara itu di sela-sela pelaksanaan vaksinasi, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Badung, I Wayan Sunada mengungkapkan, potensi ancaman penyebaran penyakit rabies masih ada. Dengan demikian, pihaknya telah menerjunkan tim vaksinasi di seluruh kecamatan untuk mencegah masuknya virus rabies yang dibawa anjing liar maupun binatang peliharaan yang belum divaksin.
“Vaksinasi rabies mulai kita gencarkan lagi, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan, termasuk pada anjing-anjing liar,” ucapnya.
Wayan juga menyampaikan bahwa untuk mempertahankan wilayahnya tetap Zero Case PMK, maka Pemprov Bali terus melakukan upaya-upaya pencegahan, terutama dengan melakukan vaksinasi pada HRP.
“Kita akan pertahankan provinsi kami tetap Zero Case,” pungkasnya.